Qodari: Presiden Prabowo Sedang Latih Mental Wirausaha Rakyat lewat KDMP

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menilai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) tidak hanya dirancang sebagai wadah penguatan ekonomi desa, tetapi juga menjadi sarana membangun mental kewirausahaan masyarakat. Menurut Qodari, Presiden Prabowo Subianto ingin para pengurus koperasi memiliki keberanian menghadapi tantangan sekaligus kemampuan mengelola usaha secara profesional. “Semua usaha itu merupakan suatu proses yang penuh dengan tantangan. Presiden sedang melatih seluruh rakyat Indonesia, terutama para pengurus koperasi ini, untuk memiliki jiwa kewirausahaan,” kata Qodari saat menghadiri peringatan Hari Koperasi Nasional di Banyuwangi, Rabu (22/7/2026).

Qodari mengaku memahami tantangan tersebut karena sebelum masuk ke pemerintahan ia pernah menjadi peneliti sekaligus pengusaha. Pengalaman itu, kata dia, mengajarkan bahwa keberhasilan usaha tidak cukup hanya mengandalkan produk yang bagus. Di hadapan ratusan kepala desa dan pengurus kopdes, Qodari menceritakan bahwa ia pernah membuka usaha restoran burung puyuh goreng di Jakarta. Meski cita rasa makanannya diakui pelanggan, usaha tersebut akhirnya tidak bertahan karena lemahnya pengelolaan keuangan dan pemasaran. “Manajemen keuangannya kurang. Uang usaha diambil untuk kepentingan pribadi. Marketingnya juga kurang. Akhirnya usaha saya defisit,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Qodari mengatakan seorang pelaku usaha setidaknya harus menguasai tiga kemampuan utama, yakni produksi atau pelayanan, pengelolaan keuangan, dan pemasaran. Ketiganya, menurut dia, menjadi bekal penting yang juga perlu dimiliki para pengurus Kopdes Merah Putih. Selain membangun kemampuan berwirausaha, Qodari mengatakan desain Kopdes Merah Putih akan terus dikembangkan. Ke depan, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai penyalur barang bersubsidi dengan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET), tetapi juga menjadi offtaker atau penjamin bagi produk-produk lokal desa.

Pemerintah disebutnya juga menyiapkan Kopdes sebagai salah satu titik penyaluran bantuan sosial yang terintegrasi dengan sistem digital. Digitalisasi diharapkan dapat mengurangi kesalahan dalam penyaluran bantuan sosial, baik penerima yang seharusnya mendapat bantuan tetapi terlewat (exclusion error) maupun penerima yang sebenarnya tidak berhak (inclusion error). “Harapannya bantuan sosial semakin tepat sasaran,” katanya. Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan manajer koperasi serta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk membantu operasional Kopdes di desa-desa. Langkah itu dilakukan agar koperasi dapat dikelola lebih profesional, mulai dari administrasi, penyusunan rencana bisnis, hingga pengelolaan keuangan. Ia berharap keberadaan Kopdes Merah Putih tidak hanya memperkuat ekonomi desa, tetapi juga melahirkan lebih banyak wirausahawan baru. “Bukan mustahil para alumni Koperasi Merah Putih nanti akan menjadi para usahawan baru dari masing-masing desa. Itulah cara yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk melahirkan entrepreneur di Banyuwangi maupun di seluruh Indonesia,” tandasnya. ( kompas.com )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts