Karnaval Kebangsaan Banyuwangi Jadi Panggung Teatrikal Perjuangan dan Budaya Nusantara

Semangat kemerdekaan terasa begitu hidup di Banyuwangi. Ribuan warga tumplek blek memadati sepanjang jalan depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi hingga Taman Blambangan, Kamis (13/8/2026), untuk menyaksikan Karnaval Kebangsaan yang menjadi salah satu rangkaian Semarak Kemerdekaan di Bumi Blambangan.

Karnaval yang menempuh rute sekitar 2,5 kilometer itu berubah menjadi panggung besar yang menampilkan kekayaan budaya Nusantara.

Beragam atraksi budaya dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan secara kreatif oleh para pelajar Banyuwangi, mulai dari budaya Banyuwangi, Aceh, Madura, Sulawesi, Sumatera Barat, hingga Papua.

Para peserta yang merupakan siswa dari berbagai sekolah di Banyuwangi tampil dengan kostum, tarian, musik, dan pertunjukan teatrikal yang memukau.

Kreativitas mereka membuat setiap penampilan terasa hidup dan berhasil menggambarkan keberagaman budaya Indonesia dalam satu panggung kebangsaan.

Salah satu penampilan yang menyita perhatian adalah teatrikal perjuangan perobekan bendera Belanda berwarna merah-putih-biru menjadi Merah Putih di Hotel Yamato, Surabaya.

Adegan heroik yang diperankan para pelajar tersebut menggambarkan semangat perjuangan dan keberanian para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Karnaval Kebangsaan di Banyuwangi tampilkan budaya nusantara. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
Karnaval Kebangsaan di Banyuwangi tampilkan budaya nusantara. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa Karnaval Kebangsaan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan daerah.

Ipuk mengapresiasi para siswa, guru, kepala sekolah, serta orang tua yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan meriah.

“Ini bukan hanya sekadar karnaval, tetapi bagian dari upaya kita membangun kepedulian kepada daerah dan bangsa. Berikan ruang kepada anak-anak kita untuk merayakan kemerdekaan sesuai dengan passion mereka,” kata Ipuk, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, kemerdekaan harus dimaknai sebagai kesempatan untuk terus berkarya, membangun, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Penampilan Gandrung dan Barong Banyuwangi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
Penampilan Gandrung dan Barong Banyuwangi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Ipuk menilai, para pelajar yang menjadi peserta karnaval tidak hanya menampilkan kostum dan musik, tetapi juga menunjukkan bahwa nasionalisme dapat tumbuh melalui seni, budaya, kreativitas, dan kebersamaan.

“Kita boleh modern, tetapi tetap berakar. Boleh mendunia, tetapi tidak kehilangan identitas. Boleh menerima budaya global, tetapi tetap bangga pada budaya kita sendiri,” katanya.

Melalui Karnaval Kebangsaan, semangat persatuan dalam keberagaman terasa nyata. Kreativitas para pelajar Banyuwangi dalam mengangkat budaya dari berbagai penjuru Indonesia menjadi bukti bahwa generasi muda mampu merawat nilai-nilai kebangsaan melalui seni dan budaya.

Karnaval tersebut menjadi bukti bahwa peringatan kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang kreatif, edukatif, dan membanggakan, sekaligus menegaskan Banyuwangi sebagai daerah yang terus merawat budaya dan menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi mudanya.


Sumber: TIMES INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts