
Keramahan masyarakat Banyuwangi menjadi perhatian para peserta konferensi internasional International Course & Experiential Learning: Islamic Justice bertajuk “Access to Justice in Southeast Asia 2026“.
Mereka menilai nilai-nilai keislaman di Banyuwangi tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sosial dan pelayanan publik.
Penilaian tersebut disampaikan para delegasi saat mengikuti salah satu sesi konferensi di Pendopo Shaba Swagata Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Rabu (5/8/2026).
Fehmida Kanwal, peserta asal Pakistan, mengaku memperoleh pengalaman baru mengenai implementasi nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Saya banyak belajar di sini tentang bagaimana Islam diimplementasikan dalam berbagai aspek dengan baik,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Destiny Perez Orozco, delegasi asal Amerika Serikat. Menurutnya, pengalaman berkeliling Banyuwangi dan berdialog dengan berbagai pemangku kepentingan memberikan perspektif baru mengenai praktik nilai-nilai keislaman di Indonesia.
“Pengalaman ini memberi wawasan baru yang lebih luas bagi kami,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pidato kunci pada konferensi yang diselenggarakan The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Fakultas Hukum Universitas Jember bekerja sama dengan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi.
Menurut Ipuk, salah satu implementasi nilai tersebut diwujudkan melalui kepemimpinan yang inklusif serta pelayanan publik yang memberikan akses setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Nilai-nilai maqasid syariah menjadi fondasi dalam setiap kebijakan yang diambil Pemkab Banyuwangi. Sehingga seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang inklusif dan berkeadilan untuk memperoleh layanan publik,” ujarnya.
Konferensi tersebut diikuti ratusan peserta, termasuk 26 delegasi internasional dari 12 negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, Pakistan, India, Prancis, Jepang, Vietnam, Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan Kanada.
Sebelum mengikuti sesi konferensi, para delegasi telah melaksanakan kunjungan ke sejumlah daerah di sekitar Banyuwangi dalam rangkaian kegiatan experiential learning untuk mempelajari praktik pembangunan dan kehidupan masyarakat secara langsung.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Agus Trihartono, mengatakan penyelenggaraan konferensi internasional tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan Banyuwangi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya kajian Islam di tingkat internasional.
“Kami bercita-cita untuk mewujudkan Banyuwangi sebagai laboratorium hidup untuk kajian berbagai bidang keilmuan. Khususnya, dalam keilmuan Islam internasional,” pungkasnya.
Melalui konferensi internasional tersebut, Banyuwangi tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan akademik, tetapi juga memperkenalkan praktik pembangunan yang mengedepankan nilai-nilai inklusivitas, keadilan, dan harmoni sosial kepada masyarakat internasional. ( infopublik.id )

Tinggalkan Balasan